Pengalaman Belanja di BookDepository, Shipping ke Indonesia

December 26, 2019

Suka baca buku dan pengen cari buku impor? BookDepository memang andalan banget. Selain mereka memang toko, bukan marketplace... yang penjualnya random dan ada kemungkinan fraud. Since my friends have been ordering from BookDepository and have had good experience, akhirnya tergoda juga untuk pesen sendiri. This is how the story went...



Pada suatu hari yang baik, datanglah email promosi diskon BookDepository ke inbox. Namun, alhasil seperti biasa, malah nggak beli buku yang dipromo, malah beli buku lain yang susah ditemukan di mana-mana, yaitu Conspiracy Theories for Dummies. I know, konyol bukunya memang. Tapi saat itu gue lagi ambil kelas Counter Terrorism Intro. Lumayan, another angle, dan jangan meremehkan buku-buku seri 'for Dummies' itu. I'm warning you, karena lumayan insightful for beginnersWe got a start from somewhere, right?

Maka pesanlah buku itu, satu aja, di bulan Februari 2018. Perkiraannya adalah maksimal 2 bulan sampai. Sayangnya karena free delivery, metode pengirimannya pakai yang reguler dan yang mana gue pun nggak paham kenapa nggak ada tracking barcode. Sepengetahuan gue yang awam, JNE or TIKI reguler aja pun ada tracking code, kan?



Ya itulah jawaban dari BookDepo ketika gue tanya kenapa nggak ada tracking barcode. 

THE HUSTLE
Seperti yang bisa dilihat, konfirmasi dari BookDepo, order gue ada di tanggal 8 Februari. Maka ketika bulan April, gue masih belum terima dan gue kirim email ke BookDepo. Mereka bilang akan kirim lagi.

Sampai bulan Oktober, gue masih belum dapat. Gue sampe ke POS INDO terbesar di Jakarta Pusat, which is yang deket Santa Ursula di Lapangan Banteng. Dari dioper-oper, dibilang mereka nggak bisa bantu, mereka kasih nomor telepon CS Pos Indo yang besokannya gue telepon dan nggak ada yang angkat, plus gue dilecehin sama mas-mas gudang, dan I was told to ask 'mercy' deh ibaratnya dari orang-orang gudang, "siapa tahu mereka berbaik hati mau cariin buat mba, karena nggak ada kode barcodenya sih mba, jadi susah." 

I was like, do you guys even have a procedure for cases like this?

Lalu ya udah, gue pulang dengan tangan kosong. Komplen di Twitter pun gue lakukan sampai gue nyerah karena ujung-ujungnya cuma akan ditanya tracking barcode dan gue nggak punya. Muter-muter aja urusannya. Ever since, I swore nggak mau pesen apapun yang pengirimannya pake PosIndo dan nggak mau kirim apapun pake PosIndo.

Maka dari itu, gue nggak pernah pesen apapun dari BookDepo karena pengirimannya pasti yang standar atau reguler yang mana akan pakai PosIndo. Sayangnya, nggak bisa nggak.

Untuk itu, gue coba ikhlaskan, tapi gue tidak akan maafkan hal-hal seperti ini. Nggak akan lupa. Dan nggak seharusnya dilupakan karena pasti akan menimpa orang lain lagi dan nggak seharusnya gue maafkan pula karena nggak ada kejelasan sampai sekarang, apalagi upaya untuk membantu gue mencari atau minta maaf.

Dari semua itu, gue masih berusaha untuk mengganggap pesanan gue itu ya the one that got away aja dari semua pesanan-pesanan online gue yang lain.

Meskipun begitu, banyak temen-temen gue yang pesen dari BookDepo dan aman-aman aja. There I said it, to be fair. Sempet googling juga soal pesen BookDepo ke Indonesia, dan ada blogpost yang bilang kalau dia beruntung karena nggak harus nyari-nyari sampe ke Pos Indo. Yang ini gue ceritain di bawah soal nyari-nyari barang di PosIndo.

UNTIL...
Sampai satu tahun setengah kemudian, sekitar bulan Oktober-November 2019, saat gue lagi cuti panjang sebelum resign... temen kantor ngabarin kalau ada dua paket BookDepository sampai ke kantor. Gue kaget dan penasaran banget. Dan juga bingung. Karena udah lama banget, masa iya akhirnya sampai? 

*speechless*
Ketika gue akhirnya ambil pakai gosend, ternyata dua paket itu betul dari BookDepo. Ketika gue komplen di bulan April-Mei 2018 dan mereka bilang mau kirim lagi, they really did. Sekarang tahu kan masalahnya di siapa?

Sampai sekarang, gue masih belum menemukan kenapa it takes that LONG for my order to arrive. Sekarang gue bingung gimana caranya ngebalikin buku yang satu lagi ke BookDepository.

Meanwhile buku gue belum sampai, gue sempet nanya-nanya ke temen-temen gue yang mungkin tau duduk perkaranya apa. Nanya ke temennya lagi yang punya kenalan di Pos Indo. Tetep mentok, ya nggak ada tracking barcode. Selain itu gue tanya, apakah ada censorship? Karena buku gue lumayan 'ajaib'. Buat gue sih buku ini biasa aja. Tapi sebaiknya gue tanya, kan?

Dan jawabannya... nggak ada.


BACK YEARS AGO
Nah, kakak gue kirim satu dus isi baju beli dari online shop sekitar tahun 2005-2007an. Lupa tepatnya kapan. Namun, ada tracking barcode-nya. Dari tracking barcode itu, kita tau kalau paket sudah sampai ke Indonesia, tepatnya di Jakarta. Tapi nggak sampai-sampai ke alamat rumah. 

At the time, semuanya nggak seperti sekarang ya... yang gampang cek di online dan lain-lain. Dulu kontak Pos Indonesia aja kita bingung untuk tracking barang. Yap, banyak hal yang berubah dalam 10 tahun. (It scares me deep inside, tsah!)

Lalu, kita bertanya ke bapak pos yang suka antar surat ke rumah. Kita ceritain kondisinya dan dia bilang, dia akan bantuin kita. Saat itu, tracking code-nya ada... jadi lebih mudah.

Berkat bapak itu... paket kita ketemu! 

Singkat cerita, kita datang kesana dan menemukan paket kita itu sampai tapi nggak diantar. Nggak jelas kenapa juga alasannya. Kalaupun ada nilai yang harus kita bayarkan untuk menebus paket kita, nggak dikasih tau juga! Mana tau kan?
PAKET KITA ITU NGINEP DI KANTOR POS SELAMA DUA BULAN! 



Well, kasus gue di social circle gue cuma segilintir doang memang. Tapi bukan berarti nggak berarti apa-apa. Karena toh ada yang dirugikan. Materi, waktu, sama tenaga... Inget loh gue cari-cari ke Pos Indo JakPus, telepon sana sini, tanya temen-temen yang punya kenalan dan itu semua berongkos. BookDepository juga rugi karena kirim dua buku sementara yang gue bayar cuma satu!

Cuma gue doang memang di antara temen-temen yang kena kondisi begini, gue yakin ada juga yang ngalemin kek gini di luar sana. Ga tau berapa kerugian BookDepository atas pesanan-pesanan yang dateng dari Indonesia. Gue sampe sekarang masih nggak nemu jawaban dari semua pertanyaan yang gue lontarkan di blogpost ini. Plus, why only me and my friends were okay with their orders?



You Might Also Like

0 comments

Subscribe