Cerita ke BBW Jakarta 2019

March 13, 2019

Big Bad Wolf (BBW) Jakarta susah selesai. Tapi dramanya masih nempel di kepala...

Hasil tangkapan: Beli Sendiri + Jastip

Gue udah jadi konsumen buku-buku BBW sejak awal pertama kali ada di Jakarta (baca ceritanya di sini). Waktu itu, tentu belum sebesar sekarang areanya yang sampai sewa 4 hall ICE BSD.

Hampir setiap tahun semenjak hadir di Jakarta, gue selalu datang pas VIP Day atau Preview Day, atau apalah istilahnya karena beda-beda terus. Labil itu biasa, gengs. Ya privilege itu bisa dapat karena koneksi... kemudian karena gue akhirnya jadi Wolf Pack Member mereka.



Ok, kecewanya di mana? Selain semakin tahun fiksinya makin kurang... tahun 2018 lalu bahkan kantin lebih gede dari area fiksi. Rekor... 30 menit muter, selesai. Nggak pakai drama harus milih-milih lagi atau apa.. karena memang cuma beli kurang dari 5 buku. Alias 2 saja.

Tahun lalu udah gedean lagi area sewanya. Tapi dua buku aja. Dan itu bukan karena gue berhasil tahan godaan atau lagi nggak punya duit. Tapi emang nggak nemu yang bagus aja. Ya, tarohlah gue kurang beruntung aja mungkin, secara mereka selalu restock secara acak and nobody will ever know buku yang judulnya apa udah abis atau belum (dan ada di mana).

Anyway, acara diskon buku sebesar itu... tentu bayangan ngubek-ngubek tumpukan buku itu ibarat gali emas kayaknya buat gue. Susah ditolak. Maka gue masih kasih kesempatan untuk BBW 2019 kemarin...

... yang nyatanya makin bikin kesel juga.

source: GIPHY


Kenapa? Jadi gini ya gengs dan tim BBW Jakarta kalau kalian baca ini.

Kayaknya kalian bisa ganti business model jadi B2B aja ke sobat-sobat jastip tercinta. Gue paham, berapa sih billing gue per dateng? Paling setinggi-tingginya 1-2 jutaan aja. Nggak sampe 1 bulan gaji gue, apalagi menguras uang tabungan. Paham, kok. Transaksi jastip BBW itu bisa ratusan juta. Untung banget buat BBW, meski gue mikir juga itu buku anak jelek gitu siapa yang mau beli ya?

Yak, gue banyak curi-curi dengar kalau sobat jastip ini sebenernya nggak tau buku mana yang bagus. Ini nanti gue ceritain di bawah.

Lanjut dulu... Anyway, gue emosi pas udah dari dateng. Nyampe lobi gate 10, trus ga bisa masuk foyer karena kudu dari gate 6 sekalian pintu masuk. Mon maap, sini sobat HNP, nggak kuat jalan jauh (sementara kudu siap tenaga buat nanti berdiri dan jalan-jalan lama di dalam sambil milih buku), tapi karena ada preskon bersama dua ibu menteri, kudulah kita ke gate 6 aja untuk masuk area foyer dan cek tiket masuk. Jauh? Buat gue... lumayan.

Pas masuk, hebatnya apa? Trolley nggak ada. Mereka punya dua macem trolley. Tetep ga ada sama sekali. Pas ditanya, "mas, ini trolley-nya di mana sih?" Masnya pun bersabda, "Abis mba, mba coba ke depan ke kasir aja mungkin dari yang udah beres bisa diambil trolleynya."

Maka itu artinya apa? Gue kudu jalan ke area hall 6! Yak, sebut saja ini namanya cobaan. Sepanjang jalan gue ke hall 6 itu gue ngeliat kok banyak banget sobat-sobat jastip budiman dan bertoleransi tinggi pake trolley ditumpuk, dari 2 - 6 trolley SAJA.

Barbuk!

Lalu sampe gue kesel, gue berentiin mas-mas bertrolley dua. Gue pikir dia nggak sadar ambil dua trolley nempel. "Mas, ini dua-duanya punya mas atau gimana?". Dan kemudian masnya pun menjawab dengan bangga dan merasa benar serta paling berhak, "iya!". Apa yang gue lakukan? GUE TERIAKIN KE MUKANYA LANGSUNG, "COOL!"

Gue percaya kalau kesel jangan ngomong di belakang. Kalau dulu, gue nggak ngomong di belakang, tapi gue simpan dalam hati dan kesel sendiri. Sekarang, jangan harap! Manusia-manusia seperti ini PERLU DITAMPAR. Tenggang rasa, toleransi dan logika sudah mulai berkurang, maka kita perlu mengingatkan kembali dengan cara yang pas! Tegur baik-baik? Nggak bakal ngaruh buat orang-orang model begini, kita sopan dan baik-baik kasih tau, mereka bisa lebih galak. Ya galak duluan aja sekalian. Di sinilah frase 'jangan kasih kendor' itu menjadi tepat penggunaannya. Orang rese, jangan kasih kendor, #interaksisehat!

Setelah itu, setiap ada orang yang bawa trolley gue banyak sekaligus gitu, gue sengaja tabrak pake kaki. Ya ngotorin sepatu gue aja sih. Plus ada orang yang jalan suka nggak pakai kedua mata kepala dan mata hati, jadi roda trolleynya makin ngotorin sepatu ini dengan seenak jidat nabrak gue. "BITCH!" gue teriakin aja. BBW berhasil membuat VIP DAY yang membuat gue tidak merasa istimewa lagi. Congrats!

Sesampainya gue dikasir, banyak banget mba-mba duduk-duduk cantik kayak abis kesasar dan nggak bisa beli tiket pulang ke kampung halaman. Dengan buku-buku bertumpuk, lengkap dengan trolley berjibun per 1 orang AJA. Ya makanya selain yang lagi nyari ngambil banyak trolley, yang udah kelar nggak langsung bayar, makanya turnover trolley-nya stuck!

Dan mereka juga ada di pinggiran.

Dan tengah-tengah hall, pokoknya selama ada sandaran, mereka ada.

Sampe ada yang gue tanya karena gue gemes ga ada trolley sama sekali, "ini kosong mba masih pake apa nggak"? Jawabannya masih! Ya muter sono cari buku... Ini trolley diem aja di sini sama elo, sama-sama nggak produktif! Pengen karungin mbanya dan iket di-trolley deh.

Ya gue cukup lama di deket area kasir dan nggak nemu trolley. Makin marah dong nih. Udah dikerjain suruh jalan ke sana-ke sini, ditabrak, dan lain-lain... maka apa? Gue ngamuk, ada satu trolley unattended gue keluarin isinya yang cuma 2-3 buku dan gue ambil trolley-nya.

TIPS untuk Big Bad Wolf. Itu buku yang suka ditumpukin dipinggiran kan belum dibayar, kalau kalian liat buku favorit didiemin begitu aja, ambil! Toh mereka belum bayar... bukan langsung bayar malah diendapin. Plus ngendapin trolley.

Ya begitulah ceritanya saya bisa dapat trolley di Preview Day (again, apalah sebutannya) di Big Bad Wolf yang katanya dari Malaysia itu ya (tapi nggak beda sama ambil sumbangan gratisan makanan di antah berantah yang kudu barbar).

Nggak semua jastip brainless dan tidak beretika sih. Temen gue jastip juga, dia bawa tote bag lebih banyak untuk nambahin 1 trolley yang dia pakai. Ada juga yg udah siap bawa koper sendiri. Secara ya... kalau dipikir-pikir, ini kan mereka jualan (BACA: CARI UNTUNG) di area jualan orang yang mana adalah si penyelenggara BBW itu sendiri. Yang fair lah!

Selain itu, mba mas jastip terhormat yang sangat noble attitude-nya itu kan membawa keuntungan paling besar untuk Big Bad Wolf... nanti kalau pihak BBW yang larang ini itu, entar ngambek trus main boikot..... eheeem... Sini paham kok billing-nya kemarin cuma sekian persen aja.

Maka, ya gue akhirnya menyarankan Big Bad Wolf untuk ganti business model. Business2Business aja deh. Jualannya langsung ke sobat gercep jastip aja. Nggak usah ke pengunjung individu. Meski gue sebagai pecinta buku (bukan buku anak atau activity book) akan kehilangan lapak untuk ngubek-ngubek cantik buku-buku langka dan menakjubkan. Sini mah sadar diri, transaksi gue mah berapaaa..... dibanding mereka, aku hanya remah-remah cemilan MSG.

Toh dengan akun-akun jastip itu, hati gue akhirnya berlabuh juga. Karena nyerah, keseeeel liat manusia kok egois sama nggak berotak amat gitu ya. Pedih, kak!

Cuma masalahnya, nggak semua mba mas jastip yang sopan dan manis itu paham sama buku. Ada yang modelannya 'ngejarah' aja, kalau nemu 1 macem, diambil sekaligus 20 eksemplar. Ga paham sih mereka menjualnya lagi bagaimana, selain tentunya kepada rekan-rekan tokped dan bukalapak. Ada gitu yang beli? Waktu gue berdiri di deket Customer Service, ada mba-mba jastip gitu yang nanya ke petugas BBW, "Dek, dari buku-buku ini yang bagus yang mana?" Lah situ jualan situ nggak tau yang mau dijual. Analoginya, "Saya mau jual anjing, di pet shop ini hewan mana yang anjing ya? Selain anjing, saya bisa jual apa ya?" Iya, analoginya itu lo mau jual anjing dan nanya pertanyaan tersebut ke Pet Shop. Bijak!

Lalu gue menemukan akun jastip terpercaya yang semoga saja... tidak main dengan cara biadab seperti yang gue temui di VIP DAY. Sebut saja namanya @jastipbbwjakarta2019 dengan pilihan judul yang lumayan menggiurkan. Mungkin tahun depan akunnya berubah jadi @jastipbbwjakarta2020. Dan kayaknya handler itu udah kudu dipesan dari sekarang, sebelum ada yang ambil---just saying.

Tadi sebelum kelas, ngobrolin lagi soal Big Bad Wolf dengan emosi dan drama gue itu. Temen gue nanya, "wah, lo masih kesel ya? Berasa banget kesel soalnya."

Well, iya!

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe